pohonrindang

Friday, September 22, 2006

"SELAMAT PAGI, BI..."

Dari jauh aku memelukmu. Pagi yang tenang. Sudah kita katakan apa yang harus saling kita mengerti. Terimakasih karena telah menjadi sabar, telinga yang lebar dan dada yang lapang.

sayang selalu,
temanmu

Friday, September 08, 2006

"SETELAH MUNCUL PAJAR"

frans..
aku melihat kerlip pajar diufuk timur.
semburat saga juga mulai tertumpah di ujung cakrawala.

baru saja
aku memimpikanmu menetapi singgasana sederhana.
dalam penglihatanku ada tangkai terkulai di genggamanmu.
kau berbusana hijau-biru.

dan entah kenapa... tiba-tiba aku merasa bahagia.
hingga aku terbangun
bahagia itu,frans
masih sangat lengkap terasa.

kau tahu mengapa??
karena warna hijau-biru itu membahasakan jiwamu

aku bahagia
ketika engkau merasa bahagia.
teringat sahabat maya...
apa kabar?
masihkah jalanan jiwa dipenuhi semak belukar??
aku ingin melihat gemerlap riak kehidupan hatimu.
dan pohon rindang itu masih menunggu.
meski bumi membara dan kerontang menyalakan segala
ku harap meski kecil...mata air di jiwamu terus mengalir.

karena seperti biasa, setiap aku melihat wajah bulan
ujung ingatan ku mengukir tanya tentangmu di cakrawala.
semoga
pergantian warna hidup tak membuat engkau lantas tenggelam
atau lumpuh tak mampu tertatih lagi.
PENGGAL CERITA LAMA KITA

Waktu yang terhempas melewati batas tertindas
Melalui jalan yang sulit namun akhirnya bebas

Penggal cerita lama kita terkuak dalam dongeng cerita fiksi
Dibacakan para ibu di malam hari

“…kereta kuda melaju memasuki hutan terlarang lalu tiba-tiba saja terdengar teriakan…” cerita sang ibu.

Aku dengar gema cerita lama kita menggaung lagi dan lagi
Aku berbisik di telingamu

“Dengarkah kau penggal cerita kita tergemakan dalam sahutan pada malam?”

####

PENGGAL CERITA LAMA KITA (II)

Bisikan malam menyampaikan kabar padaku
bersama sahutsahutan serigala kepada sang rembulan

Malam ini aku dengar kisah kita tergemakan lagi, kali ini…
“…teriakkan itu terus menggaung berpantulan pada pepohonan di hutan terlarang yang luas…”
cerita dongeng itu dilanjutkan sang ibu pada malam menjelang tidur

Biarkan aku bebas mencari duniaku
beri aku waktu tuk mampu membebaskanmu dari genggam erat tanganku

Penggal cerita lama kita kan terus mengalir bersama gelombang air sungai
angin yang berhembus dalamdalam
dan malam yang bertambah hitam



(Frans, Vita, Ihan)
Dialog Dua Jiwa

dialog dua jiwa pada malam bersama purnama
menjaring kata yang bertaburan di angkasa
dan merangkaikannya menjadi sebuah kalimat yang nyata

pada sepertiga malam yang menjelang subuh
menenun mimpi menjadi sebuah pengharapan

dialog dua jiwa yang menjadikan hati kita bersua
membisikan do’a dalam syair kebersamaan

dua jiwa adalah kita
dalam irama yang saling menyapa
setelah sekian lama seperti dua tepi sungai yang berseberangan

pada sepertiga malam
pada bayangan wajah bulan
dialog dua jiwa kita menjadi pahatan
senyum anak-anak buah cinta
di masa depan


tuk pasangan jiwa yang baru kutemukan
Entahlah

Entahlah, malam ini yang ada di benakku adalah engkau yang dedauan kering disungkur angin, diam membisu, pasrah terbelah, membusuk menjadi kompos bagi tumbuhku. Berlembarlembar memori yang setiap ujungnya hangus terbakar karena emosi jiwa kembali mengotori telapak tanganku. Masih saja lembarlembar ini menyisakan abu, lembarlembar diary yang setiapnya ada namamu, ada kisah tentang kita.
***************

( ihan....... )
Walau Tinggal Pahatan

langkahku terhenti
saat terdengar suara seruling bambu
mengalun syahdu bernada merayu
kulekatkan telingaku pada angin
agar suara itu masuk dan menyentuh gendang telinga
itu nada cinta,...
suara itu semakin menghilang seiring hembusan angin

kembali ku berjalan
menyusuri lorong-lorong kehidupan
yang tak pernah sepi oleh lalu lalang sayap-sayap tak bertubuh
terbang tinggi dan rendah tak menyentuh tanah
debu-debu berterbangan senang disetubuhi angin
daun-daun kering tertawa riang digelitik terik
awan tersenyum memandang kehidupan

aku seperti,
sayap-sayap itu
debu-debu itu
daun-daun itu
aku seperti awan itu

dimensi tempatku melangkah tanpa batas
rumus-rumus ilmiah tak mampu menjamah
langkahku tak terhentikan,
kamu tahu seperti apa sesunggunya keadaanku saat ini;
'aku seperti anak ayam dalam ancaman elang'
meringkuk dalam sayap-sayap induk
melihatnya seperti melihat malaikat maut

aku hidup dalam bayangan maut
yang setiap saat menyambangi tempatku berlindung
oh,.. tak ada tempat berlindung darinya
sesaat yang kupunya ingin bermakna
entah untuk apa, siapa

yang ku tahu esok adalah kematian bagiku
dan hari ini kusebarkan bebijian diladang kehidupan
berharap tumbuh berkembang
hingga buahnya dapat dinikmati musafir
walau saat itu namaku tinggal pahatan
Bukan BERAT beban yang membuat kita stress, tetapi LAMA nya kita memikul beban tersebut.
-Stephen Covey-


Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress,
Stephen Covey mengangkat segelas air dan bertanya
kepada para siswanya: "Menurut anda, kira-kira
seberapa beratnya segelas air ini?"

Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr.
"Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi
tergantung berapa lama anda memegangnya." kata Covey.

"Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada
masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan
kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya
selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan
ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi
semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan
semakin berat."

"Jika kita membawa be ban kita terus menerus, lambat
laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu
akan meningkat beratnya." lanjut Covey.
"Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas
tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya
lagi". Kita harus meninggalkan beban kita secara
periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu
membawanya lagi.

Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban
pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok. Apapun beban yang ada dipundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi.

Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya ...!
Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat, atau disentuh, tapi
dapat dirasakan jauh di relung hati kita.

Start the day with smile and have a good day....
"MENJADI APAPUN DIRIMU"

Menjadi karanglah, meski tidak mudah. Sebab ia akan menahan sengat binar mentari yang garang. Sebab ia akan kukuh halangi deru ombak yang kuat menerpa tanpa kenal lelah. Sebab ia akan melawan bayu yang keras menghembus dan menerpa dengan dingin yang coba membekukan. Sebab ia akan menahan hempas badai yang datang menggerus terus-menerus dan coba melemahkan keteguhannya. Sebab ia akan kokohkan diri agar tak mudah hancur dan terbawa arus. Sebab ia akan berdiri tegak berhari-hari, bertahun-tahun, berabad-abad, tanpa rasa jemu dan bosan.

Menjadi pohonlah yang tinggi menjulang, meski itu tidak mudah. Sebab ia akan tatap tegar bara mentari yang terus menyala setiap siangnya. Sebab ia akan meliuk halangi angin yang bertiup kasar. Sebab ia akan terus menjejak bumi hadapi gemuruh sang petir. Sebab ia akan hujamkan akar yang kuat untuk menopang. Sebab ia akan menahan gempita hujan yang coba merubuhkan. Sebab ia akan senantiasa berikan bebuahan yang manis dan mengenyangkan. Sebab ia akan berikan tempat bernaung bagi burung-burung yang singgah di dahannya. Sebab ia akan berikan tempat berlindung dengan rindang daun-daunnya.

Menjadi ikan pauslah, meski itu tak mudah. Sebab dengan sedikit kecipaknya, ia akan menggetarkan ujung samudera. Sebab besar tubuhnya akan menakutkan musuh yang coba mengganggu. Sebab sikap diamnya akan membuat tenang laut dan seisinya.

Menjadi elanglah dengan segala kejantanannya, meski itu juga tidak mudah. Sebab ia harus melayang tinggi menembus birunya langit. Sebab ia harus melanglang buana untuk mengenal medannya. Sebab ia harus melawan angin yang menerpa dari segala penjuru. Sebab ia harus mengangkasa jauh tanpa takut jatuh. Sebab ia harus kembali ke sarang dengan makanan di paruhnya. Sebab ia harus menukik tajam mencengkeram mangsa. Sebab ia harus menjelajah cakrawala dengan kepak sayap yang membentang gagah.

Menjadi melatilah, meski tampak tak bermakna. Sebab ia akan tebar harum wewangian tanpa meminta balasan. Sebab ia begitu putih, seolah tanpa cacat. Sebab ia tak takut hadapi angin dengan mungil tubuhnya. Sebab ia tak ragu hadapi hujan yang membuatnya basah. Sebab ia tak pernah iri melihat mawar yang merekah segar. Sebab ia tak pernah malu pada bunga matahari yang menjulang tinggi. Sebab ia tak pernah rendah diri pada anggrek yang anggun. Sebab ia tak pernah dengki pada tulip yang berwarna-warni. Sebab ia tak gentar layu karena pahami hakikat hidupnya.

Menjadi mutiaralah, meski itu tak mudah. Sebab ia berada di dasar samudera yang dalam. Sebab ia begitu sulit dijangkau oleh tangan-tangan manusia. Sebab ia begitu berharga. Sebab ia begitu indah dipandang mata. Sebab ia tetap bersinar meski tenggelam di kubangan yang hitam.

Menjadi kupu-kupulah, meski itu tak mudah pula. Sebab ia harus melewati proses-proses sulit sebelum dirinya saat ini. Sebab ia lalui semedi panjang tanpa rasa bosan. Sebab ia bersembunyi dan menahan diri dari segala yang menyenangkan, hingga kemudian tiba saat untuk keluar.

Karang akan hadapi hujan, terik sinar mentari, badai, juga gelombang. Elang akan menembus lapis langit, mengangkasa jauh, melayang tinggi dan tak pernah lelah untuk terus mengembara dengan bentangan sayapnya. Ikan Paus akan menggetarkan samudera hanya dengan sedikit gerakan. Pohon akan hadapi petir, deras hujan, silau matahari, namun selalu berusaha menaungi. Melati ikhlas untuk selalu menerima keadaannya, meski tak terhitung pula bunga-bunga lain dengan segala kecantikannya. Kupu-kupu berusaha bertahan, meski saat-saat diam adalah kejenuhan. Mutiara tak memudar kelam, meski pekat lingkungan mengepungnya di kiri-kanan, depan dan belakang.

Tapi karang menjadi kokoh dengan segala ujian. Elang menjadi tangguh, tak hiraukan lelah tatkala terbang melintasi bermilyar kilo bentang cakrawala. Paus menjadi kuat dengan besar tubuhnya dalam luas samudera. Pohon tetap menjadi naungan meski ia hadapi beribu gangguan. Melati menjadi bijak dengan dada yang lapang, dan justru terlihat indah dengan segala kesederhanaan. Mutiara tetap bersinar dimana pun ia terletak, dimana pun ia berada. Kupu-kupu hadapi cerah dunia meskipun lalui perjuangan panjang dalam kesendirian.

Menjadi apapun dirimu…, bersyukurlah selalu. Sebab kau yang paling tahu siapa dirimu. Sebab kau yakini kekuatanmu. Sebab kau sadari kelemahanmu. Jadilah karang yang kokoh, elang yang perkasa, paus yang besar, pohon yang menjulang dengan akar menghujam, melati yang senantiasa mewangi, mutiara yang indah, kupu-kupu, atau apapun yang kau mau. Tapi, tetaplah sadari bahwa kamu adalah seorang hamba, seorang yang lemah dihadapanNYA! Itulah dirimu.


(special to seluruh bintang-bintang indah di langit kehidupanku).
"MEMBANGUN KEMAMPUAN MENCINTAI"


Pada mulanya cinta adalah gagasan tentang bagaimana membahagiakan dan menumbuhkan orang lain. selanjutnya cinta adalah kemauan baik yang menjembatani gagasan itu menuju alam kenyataan. Sisanya adalah kemampuan.Cinta yang hanya berkembang dibatas gagasan dan kemauan baik akan tampak seperti pohon rindang yang tidak berbuah.

Bagian cinta yang yang pertama dan kedua, gagasan dan kemauan baik, biasanya terbentuk dari serangkaian penghayatan akan nilai-nilai luhur kemanusiaan dan keagamaan tentang kehidupan dan hubungan antar manusia didalamnya., hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan alam. Sedalam apa penghayatan itu dalam diri seorang pencinta sedalam itu pula sumber energi cinta yang ada dalam dirinya.

Tapi bagian ketiga dari cinta, kemampuan, memerlukan latihan dan proses pembelajaran. Kalau kita mau memberi, kita harus belajar dan berlatih bagaimana memiliki. Kalau kita mau memperhatikan orang yang kita cintai, kita harus belajar dan berlatih untuk tidak membutuhkan perhatian orang laain. Kalau kita mau menumbuhkan sang kekasih, kita harus belajar dan berlatih bagaimana bertumbuh sendiri terlebih dahulu. Begitu seterusnya : memberi, memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi mengharuskan kita memiliki kemampuan pribadi untuk melakukan tindakan-tindakan produktif.

Membangun kemampuan mencintai berarti membangun kemampuan produktif dalam diri kita. Menjadi seorang pencinta sejati berarti menjadi seorang produktif yang selalu berorientasi bukan saja pada proses, tapi juga terutama hasil akhir. Produktivitas adalah indikator kematangan seorang pencinta. Seorang pencinta yang tidak produktif adalah pohon rindang yang tidak berbuah.

Ini sisi cinta yang paling rasional dan paling berat : belajar dan berlatih untuk menjadi produktif. Ini bukan pelajaran tentang bagaimana menguntai kata-kata cinta. Atau tentang teknik - teknik merawat cinta kasih. Ini pelajaran tentang bagaimana kita mengembangkan diri, mengubah semua potensi dalam diri kita menjadi kemampuan - kemampuan baru, mengarahkan semua kemampuan baru itu menjadi sumber produktivitas.

Mencintai dengan semua siklusnya adalah "kerja dari dalam ke luar". Seorang pencinta sejati adalah seseorang yang mampu keluar dari dirinya sendiri menuju orang lain. Tapi jauh sebelum seseorang mampu keluar dari dirinya sendiri, ia harus masuk kedalam dirinya sendiri. Sedalam mungkin. Karena dari kedalaman itulah ia bisa keluar sejauh mungkin. Pelajaran cinta adalah pelajaran tentang bagaimana kita masuk kedalam diri sendiri untuk kemudian keluar dengan cara yang lain. Ini latihan untuk menjadi lebih baik untuk kemudian menjadikan orang lain lebih baik. Dan akhirnya, ini adalah pelajaran tentang bagaimana mengubah kehidupan kita menjadi taman yang lebih indah dipandang dan lebih nyaman di huni. Karena disana kita bertumbuh. Karena dalam pertumbuhan itu kita berbahagia.

************************************************************************************

special thanks for my soulmate; sungguh aku dapat banyak pelajaran tentang cinta darimu.
"KETIKA KATA TERURAI JADI LAKU"

kulitnya hitam. wajahnya jelek. usianya tua. waktu pertama kali masuk kerumah wanita itu, hampir saj aia percaya kalau ia berada dirumah hantu. lelaki kay adan tampan itu sejenak ragu kembali. sanggupkah ia menjalani keputusannya??. tapi segera ia kembali pada tekadnya. ia sudah memutuskan untuk menikahi dan mencintai perempuan itu. apapun resikonya.
suatu saat perempuan itu berkata padanya, "ini emas-emasku yang sudah lama kutabung, pakailah ini untuk mencari wanita idamanmu, aku hanya membutuhkan status bahwa aku pernah menikah dan menjadi seorang istri". tapi lelaki itu malah menjawab, "aku sudah memutuskan untuk mencintaimu. aku takkan menikah lagi".
semua orang terheran-heran. keluarga itu tetap utuh sepanjang hidup mereka. bahkan mereka kemudian dikaruniai anak-anak dengan kecantikan dan ketampanan yangluar biasa. bertahun-tahun kemudian orang-orang menanyakan rahasia ini padanya. lelaki itu menjawab enteng, "aku memutuskan untuk mencintainya. aku berusaha melakukan yang terbaik. namun, perempuan itu melakukan semua kebaikan yang bisa ia lakukan untukku. sampai aku bahkan tak pernah melihat kulit hitam dan wajah jeleknya dalam kesadaranku. yang kurasakan adalah kenyaman jiwa yang melupakan aku pada fisik".
begitulah cinta ketika ia terurai jadi laku. ukuran integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati...terkembang dalam kata...terurai dalam laku...., kalau hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. kalau hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai kepalsuan dan tidak nyata....kalau cinta sudah terurai jadi laku, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhujam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam laku. persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.
semakin dalam kita merenungi makna cinta, semakin kita temukan fakta besar ini, bahwa cinta hanya kuat jika ia datang dari jiwa pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus mengejawantah setiap saat sepanjang kebersamaan.
rahasia dari sebuah hubungan yang sukses bertahan dalam waktu lama adalah pembuktian cinta terus menerus. yang dilakukan para pecinta sejati disini adalah memberi tanpa henti. hubungan bertahan lama bukan karena perasaan cinta yang bersemi dalam hati, tapi karena kebaikan tiada henti yang dilahirkan oleh perasaan cinta itu. seperti lelaki itu, yang terus membahagiakan istrinya, begitu ia memutuskan untuk mencintainya. dan istrinya, yang terus menerus melahirkan kebajikan dari cinta tanpa henti. cinta yang tidak terurai jadi laku adalah jawaban atas angka-angka perceraian yang semakin menganga lebar dalam masyarakat kita.
tidak mudah memang menemukan cinta yang ini. tapi harus begitulah cinta, seperti kata Imam Syafi'i,
kalau sudah pasti ada cinta disisimu
semua kan jadi enteng
dan semua yang ada diatas tanah
hanyalah tanah jua
************************************************************************************
( ternyata ada yang lebih kuat dari cinta, yaitu KOMITMEN. terimakasih Pak Anis Matta...pelajaran cinta ini seperti rekahan pajar di kegelapan kebodohan jiwaku. semoga Allah senantiasa memuliakanmu....)

Friday, August 25, 2006

"dari sebuah jiwa"

ada jiwa yang bertanya, : "hal indah apa yang ketemukan dari kembang api yang telah menjadi abu dan kau lupa menyimpan pijarnya??".
setelah berpikir sejenak, aku menjawab, " hal indah bahwa saya telah pernah menyalakannya. karena tidak semua orang punya kesempatan yang sama".
namun setelah obrolan berakhir dan jiwa yang bertanya juga sudah tak ada lagi, aku kembali terngiang-ngiang pertanyaan itu. ya. hal indah apa yang kudapatkan??.lalu,ketika sampai dirumah dan bertemu dengan beberapa org lagi aku menanyakan hal yang sama pada salah seorang dari mereka. dan kau tahu apa jawabannya??!. dgn ringan ia menjawab,"aku akan menyalakan kembang api lagi, supaya keindahan pijarnya tak pernah berhenti dimataku".
jawaban yang lain lagi, pikirku!
namun, setidaknya dari jawabannya itu aku jadi semakin sadar bahwa"dari jendela yang sama 2 orang bisa melihat hal yg berbeda. satu melihat bintang dan yang satu lagi melihat lumpur".
terlepas dari semuanya, terimakasih banyak untuk jiwa yang telah melontarkan pertanyaan itu. mudah-mudahan kau juga telah menemukan jawaban yang tepat dan mudah bagimu.
"No tittle"
menyusuri kembali jalanan dibumi membara ini, aku seperti tersesat dalam sebuah kelengangan yang purba. ada banyak yang berubah disetiap sudut kotanya, dengan orang-orangnya, dan dengan diriku sendiri. pohon-pohon yang dulu menaungi sepanjang jalan, yang jika musim gugur tiba..dedaunnya jatuh satu-satu hingga ia kering kerontang dan saat musim semi muncul di bulan-bulan berikutnya pepohonan itu menghadiahi setiap orang yang lalulalang wewangian dan juga warna-warna kuning kelopak bunganya kini raib entah kemana. berganti dgn bangunan demi bangunan yang menurutku tak memberikan hadiah indah apapun.
dulu...aku sempat selama sekian tahun merasakan musim demi musim disini. menikmati jatuhan daun kala gugur dan aroma semi kala berbunga. antara pergantian malam dan siang, pergiliran tangis dan tawa, dan segala macam perubahan warna pada langit saat rembulan masih sendirian.
aku pernah lalulalang disepanjang jalan itu saat aku benar-benar sedang jatuh cinta dan saat benar-benar patah hati.(akh, bila mengingat ini aku ingin tersenyum tapi tak tahu untuk apa dan siapa..).
kini... seperti sebuah deja Vu kaki-kaki ku sedang menyusurinya. namun Deja Vu ini sungguh tak lengkap . amat sangat tidak lengkap. ada banyak kepingan yang berubah bahkan hilang. segala sesuatu nya sudah tak sama lagi. akh..aku seperti tengah patah hati lagi atas perubahan ini.
banyak. banyak sekali yang harus pergi, menyingkir bahkan padam ketika aku memutuskan untuk menjadi sosok lain dan menjadi milik yang lain. konsekwensi dari putusan itu adalah aku harus meninggalkan semua. ya semua. untuk mendapatkan satu....aku harus melepaskan semua. mungkin seperti itulah yang dimaksud oleh sebuah kalimat dari orang-orang yang paham, bahwa "untuk mendapatkan sesuatu, maka kau harus rela kehilangan sesuatu pula". sayangnya aku merasa aku tak hanya kehilangan satu namun banyak. bahkan semuanya. lalu...apakah aku menyesal atas semua ini??. menyesal karena ketika aku pulang kembali, segala yang "kumiliki" dulu hampir tak lagi mengenaliku???.jalanan itu, pepohonan itu, bahkan rasa hangat setiap melaluinya dulu.....
menyesal....?? menyesal adalah sebuah kata yang telah ribuan kali kurenungkan dulu sebelum putusan besar itu kutetapkan. saat itu, meski diantara kekacauan rasa yang tak terbahasakan aku yakin "satu" yang kudapatkan itu akan dapat mengganti semua yang telah kulepas sebelumnya. aku percaya...keputusanku bukan hanya milikku sendiri namun juga milik Sang Khalik Maha Baik. karena aku sadar, apa yang kulihat tak seluas dan sedetail yang Ia lihat. apa yang aku tahu tak sebanyak dan sedalam yang Ia tahu.
hm....tulisan ini sebenarnya belum selesai, namun entah kenapa tiba-tiba aku ingin menyudahinya saja. mungkin karena aku merasa hampa yang menyergapku telah terjawab dan mampu menenangkan desir perih yang menerpa.
selamat siang......

Wednesday, August 23, 2006

Sebatang lilin untuk pekat yang bernama "duka".....
memang membahagiakan, ketika hidupmu berjalan dengan memiliki apa yang engkau ingini. namun mungkin sedikit yang tahu bahwa kebahagiaan itu akan jauh lebih sempurna saat engkau memberi dengan apa yang kau punya.

Sunday, July 02, 2006

sebuah catatan kecil untuknya......

mungkin benar; kedekatan ini masih menyisakan jeda saat aroma silam menyusup ketengah-tengah kita. ceceran dari serbuk-serbuk masalalu membuat sedikit warna berbeda dari seluruh pelangi yang tengah kita coba pahat ini. namun sayangku, kuyakin keteduhan jiwamu akan memahami bahwa kita baru mulai merangkak sebelum akhirnya bisa berlari bersama sembari bergandengan tangan dijalanan ini. karena, meskipun mungkin sisa malam masih membias dicakrawala namun kupastikan bahwa aku telah siap menyongsong matahari bersamamu.

Sunday, June 18, 2006

dua lagu jiwa untuk yang terkasih

I
apakah ada bedanya..
hanya diam menunggu,
dengan memburu bayang-bayang.
sama -sama kosong!
kucoba tuang kedalam kanvas. dengan garis dan warna-warni yang aku rindui
apakah ada bedanya...
bila mata terpejam. pikiran jauh mengembara menembus batas langit
cintamu telah membakar jiwaku. harum aroma tubuhmu menyumbat kepala.
dan pikiranku.
dibumi yang berputar, pasti ada gejolak .ikuti saja iramanya isi dengan rasa.
dimenara langit, halilintar bersabung. aku merasa tak terlindung terbakar kegetiran...

cinta yang kuberi... sepenuh hatiku.
entah yang kuterima... aku tak perduli!

apakah ada bedanya...
ketika kita bertemu.
dgn saat kita bepisah.
sama-sama nikmat....
tinggal bagaimana kita menghayati, dibelahan jiwa yang mana kita sembunyikan
dada yang terluka.
duka yang tersayat.
rasa yang terluka.

II
pernahkah engkau coba menerka
apa yang tersembunyi disudut hati...
derita dimata...derita dalam jiwa
kenapa tak engkau pedulikan
sepasang podang terbang melambung menukik bawah seberkas pelangi
gelora cinta..... gelora dalam dada.
kenapa tak pernah engkau hiraukan

selama musim belum bergulir...
masih ada waktu saling membuka diri!
sejauh batas pengertian....
pintupun tersibak.
cinta mengalir....
sebening embun
kasih pun mulai deras mengalir
cemerlang sebening embun.

pernah kah engkau coba membaca
soorot mata dalam menyimpan rindu
sejuta impian sejuta harapan
kenapakah mesti engkau abaikan.

( aku tengah menulis ketika lagu ini mengalun.....
kakak, aku rindu padamu)
untuk seorang kekasih yang baru kutemui

tiba-tiba saja aku jadi sangat merindukanmu.
sedang seperti apakah wajah rembulanmu sekarang?.
adakah engkau tahu, disini ada yang mulai deras mengalir.
gemericik jernih memantulkan cemerlang matahari.
mengalir diseluas kehijauan rasa yang tak terkata.

jangan engkau tanya,
darimanakah hulu aliran itu.
jauh atau dekat, ia hanya ingin bermuara dilaut jiwamu.
menghidupi ikan-ikan yang mungkin dulu pernah kesepian.
menggerakkan bahtera yang mungkin akan berlayar diatasnya.

sedang seperti apakah jiwa rindangmu, sekarang?
tiba-tiba saja aku sangat ingin menatapmu lagi.
pintu telah terbuka lebar.
dan cintapun mengalir
mengisi seluruh kekosongan
menyejukkan seluruh kegersangan
dalam jiwa.

(dengan seluruh rindu itu jiwaku memanggilmu, teman sayang)
sebuah goresan dalam mimpi

pernah, aku bermimpi
berkaca pada telaga, bening sekali
mungkin serupa mata,
sebuah tatap, larutkan duka dalam dada.
kini mimpi itu telah lenyap
tinggal bekasnya saja terpahat didinding waktu.
sementara langit terus berbinar
matahari berpijar....
menghangatkan sebuah taman baru
dalam jiwa.
mimpi itu...,
meski mengabadikan luka
namun telah membuat metamorphosaku sempurna.

.............................................selamat tinggal...........................................

Friday, June 16, 2006

Terlalu sarat mengurai cair yang meresap ke segala kapiler rasa di tubuhku, seperti manis desiran gamang di persendianku, getir mengental di sesak dadaku, dingin memeluk akrab di renggang nyawaku, sementara diujung kosa kata nalar terus lahir anak anak kembar yang hanya punya satu nama, yaitu rindu.
Aku telah jatuh rindu pada kebosanan dan penyangkalan kata katamu di gaung ruang ruangmu yang tak ingin kutinggalkan. Jatuh rindu pada menemukan serpihan hatimu yang kau cecerkan untuk jadi jejak arahku menujumu. Jatuh rindu pada bayang yang kau tinggalkan jadi residu bermalam malam hujan kata dan tabur sejuk senyuman di bingkai kita.
Aku hanya membenci perubahan ketika aku bahagia. Namun aku jatuh rindu pada keresahan dan kegelisahan yang membawaku ke kisi kisi tak tertakluk dari paras renungmu. Membahagiakanku dalam harap cemas dan dingin keringatku menanti perubahan waktu yang tergolek membalikan tubuh dan menimpaku dengan segala sarat rindu membatu yang baru.. Aku.. di bening kolam mu, seakan bergeming naif menunggu Aku rindu, hanya itu kata kata yang kutemu Walau perjalanan yang mendera itu tak pernah bertepi sama menuai bulir pendamaian diri dengan hati. Meneduhkan segala yang diusik oleh hempasan rasa dan segala pecah buih perih manis nya yang berlaksa laksa
ibu....
dunia kecil ku telah pergi jauh.
segalanya telah jauh.
bahkan engkau juga jauh.
impian ku juga telah jauh.
rumah besarku juga telah jauh.
kegembiraan ku juga telah jauh.
segalanya..
segalanya jauh.
yang mendekat adalah keterasingan kini.
bolehkah aku pulang lagi???
ada yang sedang kebingungan dengan langkah-langkah kakinya. ia yang terbiasa memagari resah dengan kesendirian, kini harus berbagi dengan orang asing yang sama sekali tak mengenalnya.
ia pernah punya sahabat. sahabat maya namanya.
saat ia menekan tuts-tuts ini, ia bertanya"sedang dimanakah engkau, sahabat maya??".
pohon rindang itu sepertinya tengah menunggumu. dan dunia diluar sana semakin letih. letih dan tua.
apakah letih itu menderamu juga????
jalan-jalan semakin berbeda arahnya. bunga-bunga seakan gugur sebelum musimnya tiba. antara aku denganmu, seakan ada dinding kaca. aku dapat melihat seluruh gerakmu bahkan merasakan helaan nafasmu dibalik kaca itu. begitu juga kau. kita begitu dekat. tapi sayatan halus ini membuat dinding kaca itu kian tebal terasa.

aku kembali ingin berjalan-jalan sendirian. menyusuri jalanan dan gang-gang sunyi seperti dulu. atau kembali kepada kesenyapan pohon rindangku yang masih tegak sendirian. aku ingin duduk dibawahnya. melewatkan jenak-jenak pencarian atas segala jawaban dari seluruh ketakpahamanku akan cinta yang tak terbahasakan itu.

kau dan aku....., baru berjalan sedikit saja. namun langit diufuk terlihat semakin buram dalam keemasan fajar. dan adalah perih tersembunyi ketika mengerti semua sudah tak sama lagi. mungkinkah rantai jiwa yang baru saja kita rangkai telah akan burai satu-satu??.
adakah langit yang mewarnai laut?? atau laut yang membirukan langit??
apakah aku yang tak bisa memahamimu?? atau engkau yang belum mengenalku??.
oh. dinding kaca itu!. terasa kedekatan ini berjarak ribuan mil jauhnya.
entah mengapa. aku mulai merasa kehilanganmu. ya. sejak malam itu aku merasa telah kehilanganmu. atau, kaukah sebenarnya yang telah kehilangan aku???.

aku ingin terus berjalan sendirian. kembali mengakrabi sunyi seperti dulu. menikmati segala perih sendiri. memungut pecahan kaca dari rumah jiwa yang telah poranda.
duh jiwa!
sebuah pohon berdiri tegak. membiarkan musim demi musim melalui kesunyiannya. tak ada yang ditunggu. tak ada yang dinanti. ia biarkan semua lalulalang dibawah rindang daunnya. musim semi, musim gugur, dan seluruh pertukaran warna gelap dan terang. segala sesuatu membuat warna langit lebih sempurna. segala sesuatu membuat pelangi lebih lengkap warnanya. tangis dan kegembiraan membuat sekelilingnya lebih bermakna. walau terkadang...pada saat sunyi benar-benar tak terbaca lagi, pohon itu kekangenan pada segala jejak yang pernah singgah dibawahnya. rindu itu....membuatnya ingat betapa tatap nanarnya tak mampu berdusta bahwa ia telah kehilangan sesuatu. sesuatu yang memang hanya singgah, sempat berteduh...di bawah rindang daunnya.

sebuah pohon.....
musim gugur dan musim semi, ia hanya tegak. tak ada yang ditunggu lagi. tak ada yang dinanti. hingga sisa waktunya selesai. dan tuntas menyapa mereka yang mungkin masih akan singgah lagi. mereka yang singgah.......yang datang.......kemudian pergi. berlalu. seperti musim-musim itu.pohon itu....barangkali telah terlupakan sejak beberapa musim yang lalu.